Selamat Datang di Blog Alpha Rho

Jumat, 30 April 2010

Inovasi: Kotak Pos Alpha Rho






























Idealnya, desain sebuah kotak pos sebuah rumah adalah sedemikian rupa sehingga tukang pos memasukkan surat dari arah depan sedangkan penghuni rumah mengambilnya dari arah belakang. Namun, apa yang lazim dijumpai di kenyataan adalah baik tukang pos maupun penghuni rumah sama-sama mengakses kotak pos dari arah depan. Terkait desain kotak pos yang cocok, bentuk dan jenis pagar depan rumah adalah hal lainnya yang juga menentukan harus seperti apa kotak pos yang dipasang.

Setelah sekian lama mengamati kenyataan di ‘lapangan’ tersebut, dan sekian lama pula menempati rumah dengan pagar depan tipe BRC (entah singkatan dari apa, belum di Google), maka ditemukanlah ide membuat kotak pos desain Alpha Rho seperti tampak pada foto. Untungnya, untuk menutup biaya produksi yang di sub-kontrakkan ke vendor terpilih ada beberapa tetangga yang berminat memasang di pintu (gerbang) geser BRC-nya. Seperti terlihat pada foto, konstruksi kotak pos Alpha Rho memerlukan tingkat ke-presisian tinggi karena kasarnya merupakan 2 kotak terbuka yang disetangkupkan, dengan ukuran dan jarak antar lubang yang toleransinya relatif kecil. Untuk pekerjaan pelat logam seperti ini hanya pabrikan-pabrikan panel yang mempunyai mesin seperti CNC yang bisa melakukannya, tidak memungkinkan untuk di ‘sub’-kan ke workshop sekelas bengkel las besi teralis atau pagar besi tempa.

Sayang disayang, seperti halnya terhadap barang atau benda lain di pekarangan rumah kita, kotak pos Alpha Rho-pun tak luput dari sasaran tangan-tangan jahil kegiatan marketing yang tidak bertanggung jawab dan seenaknya, yaitu penempelan stiker-stiker iklan yang cukup menjijikkan. Ya, mau tidak mau pantas dibilang menjijikkan karena selain merusak penampilan kotak pos, umumnya tulisan pada stiker-stiker tersebut tidak lain dan tidak bukan, iklan sedot tinja!

Kamis, 29 April 2010

Inovasi: Lampu Tiang Alpha Rho















































Lampu tiang Alpha Rho didesain untuk dipasang pada tiang listrik beton PLN tipe ‘H’ yang biasanya dipakai untuk saluran udara tegangan rendah (SUTR). Karena lampu tiang ini didesain untuk keperluan dan pemakaian pribadi ataupun lingkungan kecil masyarakat umum yang tidak terjangkau fasilitas SPJU (Saluran Penerangan Jalan Umum) PLN, maka sudah barang tentu listriknya diambil dari sambungan listrik rumah pribadi. Yang jelas dan pasti, pemasangan lampu tiang ini meminta ‘kebaikan-hati’ PLN untuk membolehkan tiang ‘H’nya dimanfaatkan demi kenyamanan segelintir masyarakat yang memerlukan penerangan di waktu malam. Pada foto Mushola segi-6 Al Hayat di Blog ini, di latar belakang terlihat lampu tiang Alpha Rho yang sudah terpasang.

Ide membuat lampu tiang Alpha Rho ini didasarkan pada hasil pengamatan sehari-hari dimana masyarakat umum yang tidak terjangkau fasilitas SPJU biasanya ‘berswa-sembada’ memasang lampu penerangan dengan memanfaatkan tiang listrik PLN di sekitar rumah mereka, dengan ‘desain’ alakadarnya dan biasanya mengabaikan factor keselamatan dari segi listriknya, apalagi estetikanya.

Lampu tiang Alpha Rho dilengkapi dengan sebuah photocell untuk mengontrol ke 4 bola lampu sehingga menyala dan matinya bisa otomatis, yaitu bola-bola lampu akan menyala sendiri di saat menjelang magrib dan mati di pagi hari. Photocell yang dipasang berkemampuan mengalirkan arus 3 Ampere sehingga secara teori lampu tiang Alpha Rho bisa dipasangi 4 bola lampu dengan total daya kurang lebih 600 Watt. Namun justru sebaliknya, ide pembuatan lampu tiang ini didasari keinginan untuk menghasilkan penerangan umum dengan konsumsi energi listrik yang sehemat-hematnya, yaitu dengan menggunakan bola lampu hemat energi, tidak lagi menggunakan lampu neon TL yang umumnya digunakan segolongan masyarakat bila memasang penerangan umum di lingkungan mereka. Lampu tiang Alpha Rho yang sudah terpasang di beberapa titik di sebuah lokasi kontrakan setiap set-nya cukup dipasangi 4 buah bola lampu hemat energi masing-masing 11 Watt, dan tingkat penerangannya tidak kalah dari penerangan lampu tiang di area parkiran di mal-mal kota besar.

Rabu, 28 April 2010

Inovasi: Gulungan Selang Air Alpha Rho







Di halaman depan rumah, adanya keran air untuk keperluan menyiram tanaman atau mencuci mobil/motor adalah sudah menjadi suatu kebutuhan yang umum. Yang sering menjadi keluhan adalah penanganan mengurai dan menggulung selang airnya. Bila proses mengurai dan menggulung hanya dilakukan sekali-dua dalam sebulan, atau seminggu, mungkin ringan-ringan saja. Tetapi bila itu harus dilakukan setiap hari, 30 kali sebulan, dst., maka jangankan si empunya rumah, pembantupun lama-lama akan bersungut-sungut (setidaknya dalam hati) harus mengulang-ulang pekerjaan yang tidak efisien dan efektif tersebut.

Berawal dari bersungut-sungut sendiri itulah, maka ditemukan desain Gulungan Selang Air Alpha Rho seperti pada foto. Gulungan selang versi toko produksi pabrikan terkenal memang bisa ditemukan di toko-toko yang menjual peralatan taman (gardening). Namun walaupun bahan dan desainnya relatif canggih dan up-todate, ke-efektifannya tidaklah setepat-guna Gulungan Selang Air Alpha Rho. Umumnya produk-produk tersebut desainnya 'portable' sehingga pengguna masih dibebani tugas angkat-jinjing selain urai-gulung.

Senin, 26 April 2010

Kreasi: Mushola Segi-6 Al Hayat










Diawali dengan keterbatasan bentuk lahan yang berbentuk segitiga di tengah-tengah sebuah kompleks kontrakan, namun diinginkan di atasnya dibangun sebuah Mushola dengan luas seoptimum mungkin, diputarlah otak sekencang-kencangnya untuk mendapatkan solusi yang memadai.

Pada akhirnya, bentuk segi-6-lah yang ternyata paling memungkinkan untuk mendapatkan luas maksimum, setelah tentunya bentuk lingkaran yang sudah pasti tidak akan lazim bila direalisasikan. Merealisasikan bentuk Mushola segi-6 juga ternyata bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi pada akhirnya, alhamdulillah, Mushola tersebut bisa secara fisik berdiri dengan kokoh seperti terlihat pada foto. Bentuk kubah Mushola diilhami bentuk kubah Dome of the Rock di Yerusalem. Hanya, selain berbeda dalam ukuran kubah ini bukan dilapis emas melainkan lapisan mozaik keramik kuning dan biru.

Piaraan: Iteung



Iteung Ultah ke 16





















Per hari ini, Jum'at 4 Januari 2019, Iteung sudah 16 tahun tinggal bersama sebagai 'anggauta keluarga'. Kekurangannya hanyalah belum resmi tercacat dalam KK (kartu Keluarga), itupun kalau memang seekor monyet boleh dimasukkan dalam KK.

Berawal dari kunjungan ke Bandung di awal tahun baru 2003, pada tanggal 4 Januari 2003 disempatkan jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza (BIP) untuk sekedar cuci mata ber 'window shopping' ria. Di area pintu masuk BIP rupanya banyak dijual binatang-binatang lucu seperti tupai, bunglon, merpati, kuskus, dan tak ketinggalan seekor monyet kecil lucu berbulu lebat berwarna hitam legam gentayangan di antara binatang-binatang lainnya. Kelakuannya cuek bebek dengan keadaan sekitarnya. Umurnya mungkin masih sekitar 2-3 mingguan, kelihatan dari cara berjalannya yang masih sempoyongan. Singkat cerita, setelah tawar menawar dengan si Akang penjualnya, monyet kecil berbulu hitam itu pindah tangan 'ditukar' dengan uang seratus ribu rupiah.

Sejak itulah Iteung, karena bulunya hideung (hitam), demikian monyet kecil itu dinamai, tinggal sebagai anggauta keluarga di rumah. Sayang disayang, warna bulunya yang hitam itu ternyata hanya bertahan beberapa minggu karena setiap selesai dimandikan memakai shampo (seminggu sekali) warna hitamnya berangsur-angsur hilang menjadi warna abu-abu seperti warna monyet umumnya. Rupanya warna hitam bulunya itu akal-akalan si Akang penjualnya saja, yaitu dengan mengecat bulu aslinya menjadi hitam. Walaupun demikian, terlanjur sudah dibuatkan 'bubur merah dan bubur putih', namanya tetap tidak diganti, tetap Iteung.

O iya, sesuai namanya yang feminin, Iteung adalah betina tulen dan dari jenis Macaca Fascicularis. Monyet jenis ini disebut juga 'Long Tailed Macaca' (Macaca Buntut Panjang) atau juga 'Crab Eating Macaca, (Macaca Pemakan Kepiting). Menurut literatur, disebut monyet pemakan kepiting karena umumnya mereka tinggal di rawa-rawa dan mempunyai kebiasaan 'memancing' kepiting dengan cara menyelupkan buntutnya ke dalam rawa, dan ketika kepiting menggigit ujung buntutnya maka dengan segera diangkatnya untuk kemudian disantapnya, diluar cerita tentang perjuangan monyet tersebut dalam menaklukkan kepiting yang sudah pasti meronta-ronta dan akan menyerang dengan capitnya itu.

Minggu, 25 April 2010

Inovasi: Lampu Mesin Jahit Alpha Rho











Penerangan yang cukup sangatlah diperlukan pada waktu menjahit. Berbeda dengan mesin-mesin jahit modern yang sudah 'built-in' dengan lampu penerangan, mesin-mesin jahit model lama pada dasarnya tidak mempunyai fasilitas tersebut. Lampu mesin jahit Alpha Rho merupakan solusi atas kebutuhan penerangan untuk mesin-mesin jahit model lama tersebut yang di pasaran umumnya dikenal sebagai produk keluaran Singer ataupun Butterfly.

Lampu mesin jahit Alpha Rho didesain sedemikian rupa sehingga walaupun sifatnya perlengkapan tambahan namun bisa dipasang sebagai kesatuan utuh dari mesin jahit. Pemasangan lampu dilakukan dengan memanfaatkan lubang bulat pada mesin jahit yang pada keadaan normal ditutup pelat 'verchrome' berbentuk lingkaran menggunakan sebuah sekrup.

Tidak seperti lampu mesin jahit 'built-in' yang menggunakan lampu pijar (filamen) dengan daya minimum 10 Watt, lampu mesin jahit Alpha Rho didesain untuk menggunakan bola lampu hemat energi 7 Watt atau paling besar 11 Watt. Bola lampu yang digunakan adalah bola lampu dengan 'base' kecil, yaitu ukuran E14. Bola lampu ukuran ini biasanya dipakai untuk lampu hias gantung, dan untuk yang tipe pijar (filamen) kadang dikenal sebagai lampu 'candela'. Seperti yang sudah umum diketahui, berkat efisiensinya dalam mengubah listrik menjadi cahaya, lampu hemat energi akan memberikan luminasi yang jauh lebih terang dibanding lampu pijar sehingga cukup dengan daya 7 Watt maka luminasi yang dihasilkan akan jauh lebih terang dibanding lampu pijar dengan Watt yang sama. Bermacam merek bola lampu hemat energi base E14 dijual di pasaran, mulai dari merek yang 'nyaris tak terdengar' sampai kelas mahal. Shinyoku adalah merek yang cukup ekonomis sedangkan Leuchtech atau Megaman termasuk kelas yang mahal.

Lampu mesin jahit tambahan produk lain umumnya menggunakan kabel dan steker tersendiri untuk sambungan ke stop-kontak dinding. Lampu mesin jahit Alpha Rho didesain sedemikian sehingga untuk sambungan listriknya memanfaatkan terminal-terminan yang ada dari koneksi motor (umumnya disebut juga 'dinamo') mesin jahit yang bersangkutan sehingga tidak ada kabel dan steker tambahan karena listriknya mengalir melalui kabel dan steker yang sama yang digunakan untuk motor atau dinamo tersebut.

Untuk menyalakan dan mematikan lampu, sebuah saklar dengan indikator neon melengkapi lampu mesin jahit Alpha Rho. Bila saklar pada posisi ON (lampu nyala) maka indikator neon pada saklarpun akan nyala. Saklar dipasang pada letak yang mudah dijangkau. Tampak depan dan belakang dari lampu mesin jahit Alpha Rho ditunjukkan pada foto-foto terlampir.